Opini id Karya Anak Bangsa

Hal yang berbeda justru saya temukan pada¬†https://opini.id/opinistory/articles ini, awalnya mungkin kita harus scroll kebawah untuk melihat-lihat artikel mana yang ingin kita baca, tapi cobalah kalian klik salah satu artikel tersebut, kombinasi antara gambar dan tulisan dibuat senyaman mungkin untuk pembacanya, jika saya diminta mewakili banyak orang maka saya akan berkata “finally ada web yang tumbuh ke samping, bukan kebawah, heheeh”. Belakangan saya merasa bahwa banyak orang justru ingin intinya saja ketika membaca sebuah ulasan film, memang ada juga yang ingin mengetahui alasan panjangnya, tapi ujung-ujungnya kembali pada perspektif masing-masing, opini yang berbeda antara yang satu dengan lainnya karena yang nonton kan bukan hanya satu orang saja. Sesuai dengan namanya, OPINI, tentu dalam hal penulisan kita akan dituntut untuk lebih banyak mengeluarkan pendapat, dan dalam membuat ulasan film tentunya ini sangat penting, (oh iya, kita membicarakan seseorang yang review film sesuai kesukaan ya, bukan teknis ataupun kritik film, ini yang harus digarisbawah), bagi saya, setelah menonton pasti kita akan banyak mengeluarakan komen-komen yang sebenarnya itu adalah pandangan kita, pendapat kita tentang film yang baru saja kita saksikan, bagus atau tidak, intinya langsung nulis tanpa harus merangkai banyak kata, terkadang.

Masih saya ingat bagaimana warna orange membuat portal web yang satu ini begitu ngejreng di mata saya, sayangnya itu dulu, portal web yang sering saya panggil dengan nama Opini.id, saat ini sudah bermetamorfosis menjadi portal web yang ‘kekinian’, saat dibuka melalui PC rasanya ingin sekali saya touch layar bak membaca sebuah buku. Tampilan home yang didominasi warna putih membuat saya betah menjelajah cukup lama, sambil membaca sederet judul-judul artikel yang terpampang saya pun disuguhkan dengan foto – foto yang menarik, bahkan terkadang tanpa membaca judulnya pun saya sudah tahu apa isi artikel tersebut, mungkin ini yang dinamakan people judge book by cover. Entah bagaimana jari saya bisa mengetik kata tersebut, yang saya pikirkan kala itu adalah diri saya sendiri, bukan egois, namun saya berusaha melihat hal yang sebenarnya terjadi saat ini melalui diri saya. Pernah kalian merasa bosen membaca judul tulisan? membaca judulnya saja sudah bosan, apalagi isinya, benarkan? hal ini terkadang saya rasakan ketika membuka portal web, berita bisanya, yang judulnya sangat lebay tapi isinya tulisannya dikit iklannya yang banyak, fotonya juga hanya satu dan ketika ingin scroll kebawah ribetnya minta ampun karena sulit membedakan mana lanjutan artikel, iklan dan mana judul berita yang berbeda, mungkin jika bisa berbicara PC akan berucap “stop menggulung-gulung saya, kenapa kalian tak maksimalkan layar yang ada dihadapan kalian saat ini!”

Langsung menulis? kalau lewat PC kan repot! yaiyalah, saya juga berpikir demikian, tapi Opini.id juga hadir loh via mobile, dan setelah beberapa kali mencoba menulis disana saya sudah cukup merasa nyaman. Awalnya memang sulit, bahkan mencari tempat dimana kita akan memulai menulis saja melelahkan, namun sesuai target pembacanya yang lebih ke anak muda seperti saya, Opini.id ‘kena’ banget, hasil tulisan kita akan menjadi lebih menarik dibaca. Sudah bisa kalian download di Playstore dengan nama ‘OPINI’, sepintas mungkin kalian akan teringat dengan aplikasi Steller, tapi semakin lama menggunakannya kalian akan tahu ada beberapa perbedaan antar keduanya. Ketika menuliskan langsung tentang sebuah film di OPINI, saya seakan menuliskan intinya saja, hal-hal penting yang saya rasakan setelah menyaksikan sebuah film, dan mungkin bisa saya kembangkan menjadi sebuah artikel panjang jika saya mau.