Tips agar Tetap Sehat kala Begadang Nonton Piala Dunia 2018

Laga Piala Dunia 2018 semakin sengit dan sayang untuk dilewatkan. Pertandingan sepak bola itu kebanyakan berlangsung di malam hari saat tubuh seharusnya beristirahat. Mau tak mau begadang rela dilakukan demi nonton bola.

Namun, begadang justru dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit karena tubuh kurang beristirahat. Belum lagi, begadang juga seringkali membuat mata mengantuk saat beraktivitas di siang hari.

Agar tubuh tetap sehat dan bebas dari kantuk, terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan saat memilih begadang. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyarankan agar penikmat bola dapat mengatur dan menyiasati waktu tidur di jam lain. Seperti di siang hari atau sebelum menonton bola.

Ia menganjurkan kebutuhan tidur minimal enam sampai delapan jam per hari patut jadi perhatian meski malamnya begadang.

“Emang bola ini luar biasa ya. Tolong diatur. Kalau misalnya ada waktu tidur sebelumnya, ya tidur dulu. Kan tidur harus enam sampai delapan jam,” kata Nila saat ditemui usai acara halalbihalal Kemenkes di Jakarta, Kamis (21/6).

Selain itu, agar tetap prima walaupun begadang nonton bola, tubuh harus mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang. Sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan, asupan gizi seimbang dalam satu porsi makanan terdiri dari sepertiga karbohidrat, sepertiga sayuran dan sepertiganya lagi merupakan gabungan protein dan buah-buahan.

Saat begadang, tak ada salahnya untuk memperbanyak nutrisi mikronutrien dari sayuran dan buah-buahan akar daya tahan tubuh tetap terjaga. Tambahan asupan vitamin dari suplemen juga dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.

Asupan cairan juga mesti diperbanyak saat begadang untuk memastikan tubuh tidak dehidrasi. Terutama saat menonton bola yang banyak dihabiskan dengan berteriak mendukung tim kesayangan.

Cara Baru Menurunkan Berat Badan

Usai Lebaran, banyak orang mencari cara untuk menurunkan berat badan. Di antara banyak cara untuk menurunkan berat badan, pola asupan atau diet 16:8 mungkin bisa jadi pilihan.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Krista Varady, asisten profesor kinesiologi dan nutrisi dari University of Illinois di Chicago baru saja melaporkan efektivitas pola diet 16:8 di jurnal Nutrition and Healthy Aging.

Pola diet 16:8 merupakan pengaturan asupan makan yang memperbolehkan mengonsumsi makanan hanya dalam kurun waktu delapan jam dalam sehari. Sisanya, atau 16 jam, digunakan untuk berpuasa.

Varady menguji pola asupan mirip durasi puasa ramadan ini pada 23 orang dengan obesitas yang berusia 45 tahun.

Para partisipan diizinkan untuk mengonsumsi segala jenis makanan yang mereka suka dengan jumlah yang tak dibatasi mulai dari pukul 10 pagi hingga enam sore.

Setelah masa ‘berbuka’, mereka diwajibkan berpuasa makanan dan hanya dibolehkan mengonsumsi air mineral atau minuman bebas kalori selama 16 jam yang tersisa.

Peneliti memantau para partisipan yang melakukan diet itu selama 12 pekan. Hasil pengamatan lalu dibandingkan dengan diet intermiten lainnya yakni puasa bergantian yang mengizinkan makan satu hari penuh dan hari setelahnya berpuasa.

Peneliti menemukan pola diet 16:8 membuat seseorang mengonsumsi rata-rata 350 kalori lebih sedikit.

Selain itu tekanan darah sistolik mereka juga turun rata-rata 7 mmHg. Namun, resistensi insulin, kolesterol, dan massa lemak tetap sama antara dua kelompok yang dibandingkan tersebut.

“Hasil yang kami lihat dalam penelitian ini serupa dengan hasil yang telah kami lihat dalam penelitian lain pada pola diet berpuasa lainnya,” kata Varady.

“Namun, salah satu keuntungan dari diet 16:8 mungkin lebih mudah dilakukan oleh masyarakat. Kami mengamati bahwa lebih sedikit partisipan yang gagal dalam pola ini dibandingkan dengan pola diet lainnya,” lanjutnya.

“Data pendahuluan ini menawarkan harapan untuk pola makan yang berjeda sebagai teknik penurun berat badan orang yang gemuk, tetapi untuk jangka panjang, (diperlukan) uji coba dalam skala yang besar,” ucap Krista Varady, dikutip dari Medical News Today.