Timnas Inggris Disebut Harus Ganti Empat Pemain

Mantan bek timnas Inggris Gary Neville meminta Gareth Southgate mengganti “tiga sampai empat pemain” dalam laga terakhir Grup G Piala Dunia 2018 melawan Belgia duntuk menghindari keletihan.

Sama dengan Belgia, The Three Lions mengantongi enam poin dari dua pertandingan awal dan kini tinggal menentukan status juara grup serta runner up.

Neville berpendapat sangat penting untuk menjaga kebugaran skuat.

“Saya pernah melihat tim Inggris terjerembab di perempat final karena kaki-kaki mereka kelelahan, dan akhirnya tidak bisa melaju ke babak selanjutnya,” ujar Neville yang pernah 85 kali membela Inggris.

“Saya merasa bahwa seandainya waktu itu kami lebih menggunakan para pemain lain di dalam skuat, efek kelelahan bisa lebih diredam.”

Pria 43 tahun itu juga mengingatkan bahwa penting untuk mempercayai pemain lainnya dengan memberikan kesempatan bermain lawan Belgia, sehingga ketika mereka dibutuhkan di pertandingan lain sudah dalam kondisi siap.

“Dari sudut pandang Inggris, penting untuk mempercayai skuat ini,” kata Neville.

“Tak terhindarkan bahwa suatu saat di turnamen ini kita akan membutuhkan (Eric) Dier, jadi kenapa tidak mencobanya? Tidak terhindarkan kita harus memainkan ujung tombak lain dan sangat penting mereka bisa bermain dengan baik.”

Pemenang laga Inggris versus Belgia yang digelar Kamis (28/6) ini akan menjadi juara grup dan bertemu runner-up Grup H di 16 Besar.

Lapangan Bola Mengambang di Tengah Laut Thailand

Keterbatasan ruang bukan menjadi alasan tak bisa menikmati olahraga sepak bola. Di Pulau Koh Panyee, Thailand, ada lapangan bola yang mengambang di atas air.

Lapangan bola di atas air ini telah dibangun sejak tiga puluh tahun yang lalu. Sementara kampung nelayan yang berpenduduk 1.500 jiwa telah berdiri sejak 200 tahun silam.

Seakan tak peduli dengan ombak yang menggoyang lapangan, warga di sana setiap hari selalu menggelar pertandingan sepak bola untuk menghabiskan waktu.

Selain bola, pemain yang berlarian juga sudah pasti tercebur di air jika tak bisa mengerem laju larinya.

Bukan rasa takut tenggelam yang dirasakan, malah canda tawa yang kemudian ramai bergema jika ada pemain yang tercebur.

“Kami terinspirasi oleh konsep kolam ikan mengambang yang banyak digunakan orang tua kami. Lapangan ini terbuat dari kayu yang lalu kami beri busa dan beragam bahan mudah mengembang lainnya,” kata Hemmin, salah satu warga di kampung nelayan itu.

Tak cuma untuk berbagi canda, lapangan bola ini juga kerap menjadi ajang latihan tim sepak bola kampung, Koh Panyee Football Club, yang dikenal sebagai yang paling tangguh se-antero selatan Thailand.

Dari lapangan bola mengambang ini ada sekitar 200 orang warganya yang sempat berlaga untuk tim sepak bola Thailand.

“Berlatih di lapangan menguji keseimbangan dan daya tahan tubuh kami, sehingga saat di lapangan biasa fisik kami jauh lebih siap,” ujar Hemmin.

Koh Panyee Football Club sempat memenangi laga sepak bola muda di selatan Thailand selama tujuh tahun berturut-turut, yakni tahun 2004 sampai tahun 2010.

Saat ini lapangan bola di Koh Panyee menjadi objek wisata yang juga ramai didatangi turis.

Cara Baru Menurunkan Berat Badan

Usai Lebaran, banyak orang mencari cara untuk menurunkan berat badan. Di antara banyak cara untuk menurunkan berat badan, pola asupan atau diet 16:8 mungkin bisa jadi pilihan.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Krista Varady, asisten profesor kinesiologi dan nutrisi dari University of Illinois di Chicago baru saja melaporkan efektivitas pola diet 16:8 di jurnal Nutrition and Healthy Aging.

Pola diet 16:8 merupakan pengaturan asupan makan yang memperbolehkan mengonsumsi makanan hanya dalam kurun waktu delapan jam dalam sehari. Sisanya, atau 16 jam, digunakan untuk berpuasa.

Varady menguji pola asupan mirip durasi puasa ramadan ini pada 23 orang dengan obesitas yang berusia 45 tahun.

Para partisipan diizinkan untuk mengonsumsi segala jenis makanan yang mereka suka dengan jumlah yang tak dibatasi mulai dari pukul 10 pagi hingga enam sore.

Setelah masa ‘berbuka’, mereka diwajibkan berpuasa makanan dan hanya dibolehkan mengonsumsi air mineral atau minuman bebas kalori selama 16 jam yang tersisa.

Peneliti memantau para partisipan yang melakukan diet itu selama 12 pekan. Hasil pengamatan lalu dibandingkan dengan diet intermiten lainnya yakni puasa bergantian yang mengizinkan makan satu hari penuh dan hari setelahnya berpuasa.

Peneliti menemukan pola diet 16:8 membuat seseorang mengonsumsi rata-rata 350 kalori lebih sedikit.

Selain itu tekanan darah sistolik mereka juga turun rata-rata 7 mmHg. Namun, resistensi insulin, kolesterol, dan massa lemak tetap sama antara dua kelompok yang dibandingkan tersebut.

“Hasil yang kami lihat dalam penelitian ini serupa dengan hasil yang telah kami lihat dalam penelitian lain pada pola diet berpuasa lainnya,” kata Varady.

“Namun, salah satu keuntungan dari diet 16:8 mungkin lebih mudah dilakukan oleh masyarakat. Kami mengamati bahwa lebih sedikit partisipan yang gagal dalam pola ini dibandingkan dengan pola diet lainnya,” lanjutnya.

“Data pendahuluan ini menawarkan harapan untuk pola makan yang berjeda sebagai teknik penurun berat badan orang yang gemuk, tetapi untuk jangka panjang, (diperlukan) uji coba dalam skala yang besar,” ucap Krista Varady, dikutip dari Medical News Today.

Bikin ‘Alien Photoshoot’, Moschino Dikecam

Desainer Jeremy Scott dari label Moschino dikecam gara-gara promo koleksi terbarunya yang mengusung tema ‘Alien’ yang menyinggung krisis imigran di AS. Scott ‘dipaksa’ untuk mengedit sejumlah posting media sosial setelah dia dituduh memprovokasi krisis persoalan imigran di Amerika Serikat yang sensitif.

Sebelumnya, Scott telah memposting foto model Gigi Hadid di Twitter dan Instagram yang mengenakan pakaian ala Jackie O dengan wajah dicat biru untuk kampanye “Bangsa Alien” dengan judul: “Satu-satunya hal yang ilegal tentang alien ini adalah seberapa bagus penampilannya. ”

Namun, setelah rentetan kritik media sosial, Scott lalu mengedit posting Instagram untuk menjelaskan simpatinya untuk nasib para imigran, termasuk anak-anak yang telah dipaksa berpisah dari orang tua mereka dan ditempatkan di tahanan di AS.

Dikutip dari Sydney Morning Herald, satu pengguna Instagram menulis: “Anda ingin memulai diskusi? Berhenti mengecat model yang sama dengan warna biru dan menyebutnya revolusioner. Sebenarnya ubah permainan fesyen dengan menyewa model yang perlu diwakili. Keluar di jalan dan lakukan sesuatu yang berharga. Sampai saat itu, Anda hanyalah orang kulit putih yang menghasilkan uang dari penderitaan orang sungguhan.”

Scott dinilai jika memang peduli dengan nasib imigran, mestinya ia menjadikan model untuk koleksinya ini dari imigran sebenarnya, bukan dari model kulit putih seperti Gigi Hadid.

Sementara, ada juga komentar lain yang lebih mendukung Scott. Ia menyebut: “Apa cara yang lebih baik untuk menunjukkan keberagaman AS bahwa kita semua ‘sama’, kita semua berdarah satu warna, kita semua dilahirkan dengan satu cara dan kita semua mati!”

Ini adalah kedua kalinya dalam sepekan, dunia mode merambah masuk ke dalam hal sensitif dan kontroversial. Pada hari Kamis, Ibu Negara AS, Melania Trump menuai kontroversi karena mengenakan jaket Zara yang dihiasi dengan kata-kata “I Really Don’t Care, Do You?” saat naik pesawat untuk mengunjungi anak-anak dalam tahanan imigrasi. Pada saat itu, juru bicaranya, Stephanie Grisham, mengeluarkan pernyataan yang mencoba untuk membelokkan diskusi tentang jaket, termasuk hashtag #ItsJustAJacket.

Kalah Sengketa Paten, Samsung Bayar Rp1,96 T ke Apple

Sengketa hak paten antara Apple dan Samsung akhirnya menemui titik terang.

Perusahaan asal Korea Selatan ini akhirnya sepakat membayar denda pelanggaran hak paten terhadap Apple. Pengadilan Distrik California Utara telah menandatangani putusan sengketa antara kedua raksasa teknologi tersebut.

Meski tak mengungkap besaran denda, Samsung diduga harus membayar US$140 juta (sekitar Rp1,96 triliun) pada bulan Mei. Juri dalam sidang tersebut telah memutuskan Samsung harus membayar denda sebesar US$539 juta kepada Apple.

Namun sebelumnya Samsung telah membayar kompensasi sebesar US$399 juta atas sengketa yang telah berjalan selama tujuh tahun terakhir.

Apabila keputusan juri telah disahkan, Samsung dikabarkan harus membayar tambahan sebesar US$140 juta.

Dilaporkan Reuters, keputusan ini diambil setelah anggota juri memutuskan bahwa Samsung telah melanggar mayoritas paten yang dipermasalahkan, termasuk fitur perangkat lunak seperti double-tap zooming dan scrolling. Perangkat Samsung dianggap melanggar gaya perangkat keras hingga peletakan ikon.

Perseteruan antara keduanya dimulai pada 2011 saat Apple menuduh Samsung melangggar hak paten karena meniru desain iPhone dan fitur perangkat lunak untuk ponsel seri Galaxy S.

Juri pada 2012 lalu sempat memenangkan Apple dan mengharuskan Samsung membayar lebihd ari US$1 miliar, meski belakangan hakim federal mengurangi denda menjadi US$450 juta.

Perseteruan berlanjut hingga ke Mahkamah Agung yang memutsukan Samsung untuk membayar denda US$399 juta. Hakim kemudian mengirim kasus ini ke Pengadilan Distrik California Utara untuk menyelesaikan denda. Namun ketika dibawa ke pengadilan yang lebih rendah ini, para juri berpihak pada Apple dan mengharuskan Samsung membayar sejumlah kerugian.

Juru bicara kedua perusahaan menolak mengomentarai syarat penyelesaian sengketa. Kendari demikian, juru bicara Apple mengatakan bahwa pihaknya memberi perhatian mengenai hak-hak paten.

“Apple sangat peduli tentang desain, kasus ini melebihi soal uang. Apple menyalakan revolusi ponsel pintar dengan iPhone. Faktanya Samsung secara terang-terangan meniru desain kami. Penting bagi kami untuk melanjutkan perlindungan  kerja keras dan inovasi yang diciptakan orang-orang di Apple,” kata jubir Apple seperti dilansir dari CNN.

Profesor hukum paten dari Universitas Villanova Michael Risch mengatakan putusan ini menjadi babak penyelesaian baru yang mengharuskan Samsung merogoh kocek tambahan untuk membayar denda.

Michael mengatakan Apple telah memenangi mayoritas pertempuran, namun bukan berarti Samsung kalah total. Apple memang berhasil memenangi dengan keputusan hukuman US$1 miliar yang menunjukkan bahwa Samsung benar-benar meniru Apple. Akan tetapi, Michael memandang Samsung juga berhasil menghindari hukuman larangan penjualan ponsel di Amerika Serikat.